Bagaimana sebenarnya Islam memandang kapitalisasi nilai-nilai agama seperti yang dilakukan oleh gerakan Indonesia Tanpa Pacaran yang menjual berbagai macam merchandise untuk mengakomodasi tindakan pamer terhadap sebuah amalan?

Jawab (Dijawab oleh : Andika Dwijayanto, Lulusan UGM)
.
Penanya jelas tidak paham apa-apa soal ITP (IndonesiaTanpaPacaran), berarti. Tidak paham juga soal apa itu kapitalisasi whatnot. Founder ITP itu teman saya. Buku ITP itu saya yang sunting. Saya mengikuti ITP sejak masih gerakan lokal di sekitar Jogja. Saya tahu kurikulum mereka seperti apa. Jadi ketika saya dengar selentingan-selentingan miring soal ITP yang ngawurnya tingkat galaksi, saya cuma bisa meringis.
.
Begini. Pertama, salahnya jual merchandise apa? Dianggap pamer? Riya’? Apa definisi pamer? Apa definisi riya’? Apa kondisi sesuatu dianggap sebagai riya’ dan bukan? Ketahuan tidak pernah belajar fiqh. Padahal dalam ilmu fiqh, definisi itu penting. Sehingga dapat dibuat boundary condition ketika sebuah manathul hukmi dapat dihukumi dengan hukum syara’ tertentu atau tidak. ITP jual merchandise untuk pembiayaan aktivitas organisasi. Sama seperti kanal YouTube Nussa menjual merchandise. Sama seperti Muhammadiyah membuka banyak sektor usaha. Untuk menghidupi organisasi tanpa perlu donasi. Justru ini bagus, karena berarti ITP mandiri. Keuangan mandiri berarti idealisme tidak bisa dibeli. Sama seperti Muhammadiyah tidak bisa dibeli dengan proyek war on terror, karena mereka sudah kaya dan pendanaannya mandiri. Beda dengan ormas tertentu yang gampang diiming-imingi uang, karena secara pendanaan mereka tidak mandiri. Organisasi mau mandiri secara pendanaan kok digosipi aneh-aneh. Heran saya.
.
Kedua, apakah menggunakan merchandise ITP itu berarti pamer terhadap amalan? Kalau logikanya begitu, apa pakai peci itu berarti pamer? Pakai sorban pamer? Bawa tasbih pamer? Pakai kerudung bagi muslimah pamer? Begitu? Kacau.
Merchandise dengan simbol-simbol ITP itu bentuk syiar Islam. ITP didirikan seorang muslim yang paham aturan syariah tentang ijtima’i. Karena Islam tidak selaras dengan individualisme, maka syiar Islam harus disebarkan. Termasuk masalah ijtima’i. Bagaimana uslub syiar Islam tersebut? Ya bisa macam-macam. Lewat media sosial, diskusi, poster, seminar, termasuk merchandise. Pernah lihat cangkir model begini? (Gambar gelas yang berisi kata2 motivasi)

Itu kata-kata motivasi. Tujuannya supaya apa? Memotivasi mereka yang melihat cangkir dan membaca tulisan itu. Sama seperti merchandise ITP! Bedanya adalah simbol-simbol dan slogan pada merchandise ITP dilandaskan pada syariat Islam. Sehingga, ITP pada dasarnya turut menyebarkan syiar Islam, mengopinikan pemikiran Islam, pada siapapun yang melihat merchandise tersebut. Itu uslub yang sah secara syar’i. Tidak ada dalil apapun yang bisa menyalahkannya. Apalagi menganggapnya riya’, pamer. Sungguh sebuah asumsi fasad, tidak ada landasannya sama sekali dalam syariat. Tidak paham apa itu uslub, wasilah, thariqah.
Singkatnya, ITP jualan merchandise karena mereka mau mandiri secara pendanaan sekaligus menebarkan syiar-syiar Islam dalam hal ijtima’i. Qimah yang dituju memang qimah madiyah, bukan qimah ruhiyah. Tapi syiar Islam tetap dapat tersebar walau qimah yang dituju berbeda.
.
Memang diperlukan idrak sillah billah yang kuat untuk bisa memahami hal-hal seperti ini. Gerakan Islam harus dinilai dengan akidah Islam, dengan pemikiran Islam, bukan dengan akidah dan pemikiran sekuler. Seolah-olah organisasi berbasis agama jualan sesuatu itu haram. Kalau iya, apa kabar Muhammadiyah dengan segala sektor bisnis mereka?
Demikian agar maklum dan mengurangi kuota nggosip pada sesama muslim. Gunakan saja energi untuk menyerang ide-ide sesat seperti feminisme yang mulai mencari masalah di negeri ini.

=====================================================================

Sumber : https://id.quora.com/Bagaimana-sebenarnya-Islam-memandang-kapitalisasi-nilai-nilai-agama-seperti-yang-dilakukan-oleh-gerakan-Indonesia-Tanpa-Pacaran-yang-menjual-berbagai-macam-merchandise-untuk-mengakomodasi-tindakan-pamer-terhadap/answer/R-Andika-Putra-Dwijayanto?ch=1&share=f7bbbb1a&srid=tgyUA

 

http://indonesiatanpapacaran.com/wp-content/uploads/2020/01/putus-massal-1024x682.jpghttp://indonesiatanpapacaran.com/wp-content/uploads/2020/01/putus-massal-150x150.jpgindonesiatanpapacaran#IndonesiaTanpaPacaranArtikelCintaDakwahIndonesia Tanpa PacaranLa Ode MunafarNewsRemajaBagaimana sebenarnya Islam memandang kapitalisasi nilai-nilai agama seperti yang dilakukan oleh gerakan Indonesia Tanpa Pacaran yang menjual berbagai macam merchandise untuk mengakomodasi tindakan pamer terhadap sebuah amalan? Jawab (Dijawab oleh : Andika Dwijayanto, Lulusan UGM) . Penanya jelas tidak paham apa-apa soal ITP (IndonesiaTanpaPacaran), berarti. Tidak paham juga soal apa itu kapitalisasi whatnot....