Saat Cinta DilarangCinta itu anugerah dari Allah SWT pada semua makhlukNya, cinta merupakan salah satu bentuk dari potensi manusia yang berupa naluri. Cinta muncul dari naluri untuk melestarikan keturunan atau disebut dengan gharizah nau. Gak ada yang salah dengan cinta, karena ia pasti ada pada setiap makhluk. Cinta merupakan bagian dari kehidupan manusia, oleh karena itu cinta ada aturannya. Jangan main samber aja kaya kucing jantan naksir betinanya. Kalau cinta itu muncul pada insan yang telah siap dengan seluruh risiko cintanya maka mudah untuk mereka mengikrarkan cintanya dalam akad pernikahan. Allah pun akan mempermudah jalan mereka untuk bersatu padu dalam bingkai cinta, tentunya cinta karena Allah sang pemilik cinta dan telah menganugerahkannya kepada seluruh insan. Namun tak sama caranya jika cinta muncul pada hati insan yang belum siap dengan segala risiko cintanya tersebut. Tak salah memang rasa itu muncul pada hatinya, wajar memang tumbuh rasa cinta jika melihat yang disenangi. Namun masalah yang amat harus diperhatikan, ketika cinta itu terlarang. Kok bisa terlarang? Katanya wajar dan tak salah? Yups benar memang wajar dan tak salah jika cinta itu muncul dan disimpan pada tempatnya. Tak salah jika cinta itu dicurahkan kepada Allah dan Rosul-Nya, kepada orang tua, dan saudara-saudara. Namun jika cinta itu muncul untuk seseorang bukan mahrom (haram untuk dinikahi) artinya ia halal untuk dinikahi sementara belum ada kesiapan kita untuk menikah maka cinta itu menjadi terlarang sampai kita siap menjalani segala risiko cinta tersebut. Jika cinta itu masih terlarang maka segera alihkan rasa itu pada hal lain yang dapat melupakannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “wahai generasi muda, barangsiapa diantara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa diantara kalian yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa. Karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu” (HR. Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan At Tirmidzi) Bukan menempuh jalan yang jelas-jelas haram dengan pacaran misalnya, padahal jelas aktifitas-aktifitas pacaran itu terkandung zina didalamnya zina hati misalnya sebelum sampai pada puncak zina yaitu zina kemaluan sementara dalam firman Allah “janganlah mendekati zina……” (TQS Al Isra: 23). Mendekatinya saja sudah Allah larang apalagi melakukannya. Lalu bagaimana jika sudah terlanjur pacaran? Maka dua juga pilihannya segera menikah sesuai syariat Islam dalam segala prosesnya atau putuskan sekarang juga hubungan pacaran tersebut. Kalau putus nanti jodoh saya siapa? Hmmmmm masih aja terus ngeles untuk terus dapat pembenaran, ingat ya kawan jika Allah memerintah maka disana ada kemaslahatan dan jika Allah melarang maka disana ada kemadharatan. Bukan dibalik ya misal karena ada kemaslahatan maka Allah perintahkan. No No No!!! Hmmm okelah kalau pacaran itu haram, saya adik kakak(an) saja, atau temanan saja. Eits eits jangan anggap ini disahkan dalam pergaulan pria dan wanita. Pada hakikatnya Islam telah mengatur pergaulan pria dan wanita yaitu terpisah kecuali dalam tiga hal yakni perekonomian (muamalah), kesehatan, dan pendidikan. Ayo segera tetapkan keputusan, nikah atau putus (lost contact) dan bersabar.

sarah mulyani#IndonesiaTanpaPacaranAqidahCelotehCintaRemajacinta,Cinta Hakiki,Dilarang,pacaran,sabarCinta itu anugerah dari Allah SWT pada semua makhlukNya, cinta merupakan salah satu bentuk dari potensi manusia yang berupa naluri. Cinta muncul dari naluri untuk melestarikan keturunan atau disebut dengan gharizah nau. Gak ada yang salah dengan cinta, karena ia pasti ada pada setiap makhluk. Cinta merupakan bagian dari...